Ada bayangan
Di luar jendela waktu
Membawa kisah
Tentang luka yang beku
Pergi dengan cita
Walau ada yang belum tentu
Yang pasti bayangan sentiasa 'kan ada
Membantu manusia meniti zaman manusia
Saturday, September 20, 2008
Monday, September 15, 2008
Perteduhan
Hujan renyai,
Hanya aku,
berteduh di sini
Dan hujan semakin lebat
Tujuh lagi berteduh di sini
Bukan lagi aku sendiri
Namun apakah bedanya,
Aku dan mereka?
Bil hujan berhenti
Mereka pasti 'kan pergi
Dan aku hanya bertemankan diri
Dan aku masih di sini
Yang masih berlindung
Dan katakanlah,
Apakah ada bedanya
Aku dan mereka...
Hanya aku,
berteduh di sini
Dan hujan semakin lebat
Tujuh lagi berteduh di sini
Bukan lagi aku sendiri
Namun apakah bedanya,
Aku dan mereka?
Bil hujan berhenti
Mereka pasti 'kan pergi
Dan aku hanya bertemankan diri
Dan aku masih di sini
Yang masih berlindung
Dan katakanlah,
Apakah ada bedanya
Aku dan mereka...
Labels:
Puisi
Sunday, September 14, 2008
Tunduklah
Hanya dengan memandang mata
Akal bergelut dalam pemberontakan
Sukar sekali menunduk
Naluri mahu bertanya
Tapi terpandang kesisi gelap
Merampas keamanan
Tuhan
Temukan mulutku dengan naluri
Walau akal tetap berkata...
"Kau
pucat muka,toreh tak berdarah"
Turunlah petunjuk
Menjelmalah lagi
dihadapanku
Moga kau kecundang, Sayang.
Labels:
Puisi
Jerit Jiwa Merdeka 1
Dalam untaian sejarah
Tak pernah kita bermandi darah
Dalam menuntut maruah
Sekangkang tanah terjajah
Kita mendengar berulang
“Kita merdeka dengan pena,
Dan bukan dengan pedang”
Tapi kita mungkin terlupa
Atau kita dipaksa lupakan…
Betapa darah mengalir,
Betapa jiwa melayang
Darah dan jiwa pahlawan pertiwi
Dalam mencari merdeka sejati
Carilah benarnya sejarah.
Carilah ertinya merdeka
Dalam dirimu sendiri.
Kerana
Kita tertipu diri sendiri…
Labels:
Puisi
Tentang
Aku tak tahu apa yang harus aku katakan lagi;
Apa yang harus kuperbuat lagi,
Tanah ini dicengkam kukunya besi,
namun kau belum mahu berani,
Kau masih belum berani
Walau hanya untuk berdiri,
walau hanya untuk,
berkata dari hati...
Jangan kau tunggu,
tentanglah kezaliman dengan berani,
dengan apa saja yang kau miliki
Moga kelak kau tak mati
Mati alah,
memeluk tubuh sendiri..
Apa yang harus kuperbuat lagi,
Tanah ini dicengkam kukunya besi,
namun kau belum mahu berani,
Kau masih belum berani
Walau hanya untuk berdiri,
walau hanya untuk,
berkata dari hati...
Jangan kau tunggu,
tentanglah kezaliman dengan berani,
dengan apa saja yang kau miliki
Moga kelak kau tak mati
Mati alah,
memeluk tubuh sendiri..
Labels:
Puisi
Pemuda Tanah Ini
Di tanah ini
Orang mudanya
Jiwanya hangat penuh semangat
Bila ada kebatilan.
Kan' ditebas walau sendiri
Bila ada yang menyerang
Kan' terus mereka menerjang
Dahulu kedengar
Dengan kata-kata
Pemuda mampu menjatuhkan
Tirani kelas tertinggi
Tapi kini kulihat
Jiwa pemuda dibius
Anestetik nafsu dan materi
Jiwa kebas tak merasai
Dan, kini jelas kulihat
Di tanah ini
Menjadi pemuda
Bukan apa-apa lagi
Sudah sepertinya sida-sida
Yang anunya sudah dikasi...
Labels:
Puisi
Subscribe to:
Posts (Atom)